Skip to main content

Rencana Novel Bag. 1

AZA (part.1)

Pagi itu Aza mulai berjalan menelusuri koridor sekolahnya, hari ini adalah ahri terakhir dia disekolah itu, karma besok pagi dia hrus iktu bersama kakanya pindah ke Tangerang, kota besar yang terpah dia bayangkan sebelumnya, kebetula Arna kakanya diterima bekerja Yuasa Baterry, sebuah perusahaan besar di kota itu. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya ketika ia mendengar berita itu tadi malam ketika Arna sang kaka menelponya, tapi kesedihan pun tak bisa ia sembunyikan. Langkah semangat terus ia ayunkan hingga akhirnya ia sampai ditepi sebuah ruang, ia pandang sekelilingnya, ia pandang wajah-wajah temannya yang tengah asyik bercerita….
“Hei…Azkia datang….” Sambut Rina…
“hei…semuanya….” Sahut Aza seadanya
Teman-temannya heran melihat sikap Aza yang tidak seperti biasanya, dia senyum tapi seolah tak bersemangat, dia Nampak ceria tapi seperti ada beban dimatanya… wajarlah kalau semua temannya heran, karna Aza adalah sosok yang terkenal ceria, lincah, dan lumayan cerewet…
“Kamu kenapa za……, koq kayanya hari ini nampak aneh, lain dari biasanya….”
“ga koq….ga kenapa-napa, biasa aja…aqu lagi males aja…”
Rina yang dikenal paling deket dengan Aza, sesaat menghampiri sahabatnya ini, dengan penuh perhatian dia menepukkan tangannya.
“Aza….aqu tau kamu lagi ada masalah, cerita dong….kami disini siap koq…ngedengerin apapun itu…” bujuk RIna mewakili teman-temannya.
“Ga ada apa-apa koq Rin, aku baik-baik saja….”
“Yakin…?”
Sesaat Aza terdiam, suasana kelas masih seperti biasa, maklum masih pagi masih pada semangat dengan ceritanya masing-masing….
Dan tiba-tiba tangan Aza bergerak dan menarik Rina keluar ruangan…
“Rin Ikut aku, aku mau ngomong….”
Tanpa pikir panjang dan sedikit bertanya-tanya Rina pun menuruti langkah Aza. Sesampainya disebuah pojok ruangan mereka pun berhenti.
“Rin, hari ini adalah hari terkhir aku disekolah ini…”
“hah, apa maksudmu za…jangan ngarang ah…kamu emang suka bercanda ya….?”
“Ga Rin, aku ga bercanda, aku serius….”
“maksudmu?”..sedlidik Rina
“besok pagi, aku harus ikut kakaku ke Tangerang, aku pindah sekolah”
Rina sesaat terdiam, ada kesedihan kecil dalam hatinya…sebentar lagi ia akan kehilangan sahabatnya ini. Ia akan kehilangan teman curhat, ia akan kehilangan teman bermain, jalan-jalan ke pantai, ngebanyol, ngerujak, bahkan teman-teman untuk lari-lari dipematang sawah.
“Aku titip Chandra ya….” Sambung Aza
Rina belum juga bicara, ia masih mamandangi wajah sahabatnya ini lekat-lekat, ada rasa kehilangan yang teramat besar.”
“Rin…Rina….” Tegur Aza dengan suara agak keras
“Iya…za…aku akan coba menjaga Chandra…., tapi apa dia sudah tau?
“Belum rin, rencananya nanti malam aku baru mau kasih tau…dan misalkan aku ga sempat, tolong kamu yang menyampaikan ya….”
“baiklah, tapi sebelumnya kamu harus janji sesampai disana kamu akan sering-sering maen kesini kalau libur, telpon, atau sms….janji ya…”
“he…eh…”
Keduanya pun berpelukan dengan erat sekali, seolah inilah pertemuan mereka yang terakhir, butiran-butiran air pun tak terasa menetes dari kedua bola mata milik keduanya, Aza tampak tak mau untuk melepaskan sahabatnya ini..begitupula dengan Rina… sekeliling mereka nampak heran memperhatikan keduanya. Tapi dari sudut lain Chandra nampak tertegun memperhatikan keduanya, tak disengaja ia telah mendengar percakapan keduanya. Ia hanya bisa menatap keduanya, sebentar lagi orang yang disayanginya akan pergi meninggalkannya, dalam hatinya berkata “apa aku bisa merelakan kepergianmu za…”

“za…itu Chandra…” ucap Rina saat membuka kedua matanya yang masih sembab dengan sedu sedan.
Serentak kedua mata Aza dan Rina menatap sosok laki-laki yang parlente disekolah itu, begitu pula dengan Chandra, matanya menatap berbalik. Hingga kedua mata Aza dan Chandra bertemu. Keduanya menatap, bibir Aza terasa terkunci ia tak tau harus berkata apa?
Aza hanya bisa menatap wajah kekasihnya itu, begitu pun dengan Chandra.
Rina hanya bisa menyaksikan keduanya…. Sesaat kemudian Aza menghampiri Chandra dan tepat berdiri didepannya.
“kamu bener mau pergi cwit..” ya cwitlah nama panggilan Chandra untuk aza
“Iya zoa…, aku harus pergi, kakaku sudah mendaftarkan aku disalah satu sekolah di Tangerang…dan aku ga bisa menolaknya, semuanya untuk kebaikan aku dan keluarga” jelas aza dengan nada datar.
“terus hubungan kita…?”
“kenapa dengan hubungan kita, kita masih tetap jalan koq…hanya saja sekarang kita harus lebih bersabar dengan jarak yang akan membuat kita lumayan jauh, lagian masih ada telpon, sms yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi”
Chandra hanya tertegun, mendengar semua yang diucapkan Aza, ia tidak yakin dengan hubungan berjarak seperti itu, apalagi Tangerang sebuah kota yang tak Jauh hebohnya dengan Jakarta. Apa mungkin Aza akan mampu mempertahankan perasaannya untuknya.
“Zoa…kenapa diam” Tanya aza
“Ga cwit, aku hanya ga nyangka secepat ini kita akan berpisah”
“kan hanya untuk sementara, tiap libur aku janji aku akan pulang”
“Kamu janji, akan menjaga perasaanmu untukku?”
“tentu zoa…aku akan menjaganya untukmu”
“kalau begitu, aku tidak bisa menghalangi..pergilah…aku disini akan menunggu…”
Keduanya lalu menuliskan nama ditep baju masing-masing, sebagai tanda bahwa mereka pernah menjalani hubungan istimewa disekolah ini.

Bel sekolah pun berbunyi, keduanya lalu menuju kelas masing-masing, Chandra menuju kelasnya 2 IPA2 sedangkan Aza dan Rina menuju ruang kelas 2 IPA1. Aza dan Rina membawa kesedihan dan pilu dihati. Begitu pula dengan Rina.
Tepat pukul 11an Aza nampak membereskan semua alat tulis dan buku-bukunya, dibantu Rina menyampaikan bahwa Aza akan pindah ke Tangerang…
“Hei….za, kalau kamu jauh….bisa-bisa Chandra jatuh ketangku nanti” tiba-tiba suara itu muncul dari sudut ruangan, suara itu milik Tia…tia memang suka iseng dan menganyol seperti dirinya”
“Ambil saja, aku bisa nyari di Tempatku yang baru nanti” tak kalah Aza pun menyahut, meski sebenarnya dalam hatinya kesal…. Tapi ia coba tetap ceria dengan guyonan temannya yang satu ini, ia tau itu adalah kebiasaanya.
Tak berapa lama kemudian Aza pun mengucapkan kata perpisahan, suasana hening, semuanya diam, seolah tek rela teman yang satunya ini pergi darinya. Pelukan-demi pelukan diterima Aza, ia mendekap satu persatu sahabatnya untuk terakhir kalinya disekolah ini.
Kemudian semuanya mengantarkan kepergian Aza sampai tubuh Aza tenggelam dibalik pagar sekolah…hanya Rina yang diperkenankan untuk mengantar Aza pulang.


Sesampainya dirumah aza mendapati barang-barangnya sudah terkemas rapi, dan dia dapati akakanya sudah datang dari Tangerang…
“Ka Arna, bukannya kita berangkat besok pagi?” Tanya aza penuh selidik
“tadinya gitu za, tapi besok pagi Kaka harus ngantor menggantikan teman kaka yang sedang sakit, jadi mau ga mau kita berangkat hari ini ke Tangerangnya”
Aza tertegun, ia tak menduga ternyata semakin cepat dari rencana semula ia meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan Chandra kekasihnya. Aza tak dapat menolak rencana kakanya yang mendadak dan tertata rapi ini, ia tak mau membuat kecewa orang yang tengah berdiri didepannya dan paling ia segani serta hormati setelah ayah dan bundanya.

Aza pun bergerak kedalam kamar, ia amati sekelilingnya…figura-figura photo berisi photo-photonya dan temannya yang ceria nampak riang. Foto-foto yang diambil saat mereka berlibur ke Bali beberapa bulan yang lalu, sebuah boneka dolphin diatas lemari pemberian Chandra, gitar kecil bertuliskan Happy Birthday pun masih tertata pada tempatnya. Ia ambil figura itu, ia usapkan tangannya perlahan, ia pandangi wajah-wajah penuh ceria itu satu persatu, dan tak terasa buliran bening pun menetes dari kedua matanya. Hatinya pilu sekali harus meninggalkan ruangan ini, siang malam kamar ini menjadi saksi gerak tanganya ketika menggoreskan tinta, gerak tubuhnya ketika menghadap yang maha kuasa dan menjadi saksi saat susah sedihnya selama ini.

Perlahan ia ambil semua foto, boneka dolphin, gitar kecil, ia masukkan kedalam tas kotak kecil…ia akan memajangnya ditempatnya yang baru ketika sudah sampai nanti.
“Aza……” Arna memanggil
“Iya ka….sebentar”
“Cepat aza bis jemputannya sudah datang, kita harus cepat-cepat, ntar kemaleman lagi nyampe kotanya”
“Apa….bisnya sudah datang” bisiknya dalam hati
Tanpa pikir panjang ia mengusap buliran air mata dan bergegas keluar, ia liat seluruh barangnya sudah dibawa menuju bis jemputan itu…
Ia tak berdaya, ia ingin sekali mengulur waktu keberangkatannya itu, paling tidak sampai besok pagi…tapi apalah daya ia tak bisa melakukan semua itu.
Aza bergerak menuju sang Bunda dan memeluk erat bundanya itu, bunda orang tua satu-satunya akan ia tinggalkan. Selama ini sepeninggal ayah mereka hanya hidup bertiga dirumah itu, aza, bunda, dan bibi.
“Bunda….aza pamit ya…., mohon do’a restu agar aza diberikan kemudahan disana nanti”
“Iya Nak, berangkatlah…..banyak-banyak berdo’a, inget sama Alloh jangan, belajar yang rajin…Bunda akan selalu mendo’akan kamu disini, dan akan selalu menanti kepulanganmu”
Tetesan air matapun tak kuasa dibendung dua wanita itu, aza senggukan menahan tangisnya, begitu pula dengan Bunda. Pelukan erat seolah tak ingin lepas rasanya, dan diakhir Bunda mencium kening aza putri kesayangannya ini.
Badan aza bergerak kepada bibi dan berbisik “bi, aza titip bunda ya…” sang bibi hanya bisa mengangguk, bibipun tak kuasa menahan rasa haru, tak aka nada lagi yang meminum susunya ketika pagi hari, tak ada lagi yang mendengarkan dongenganya.
Puas memeluk bibi, aza pun beranjak memeluk sahabatnya Rina…
“rin, aku titip chandara….dan tolong berikan ini pada dia” tangan aza memberikan sebuah gelang besi yang bertuliskan namanya dan Chandra.
“Iya za, aku akan jaga Chandra untukmu”

Puas dengan pelukannya pada sahabatnya, aza pun melangkahkan kakinya bersama Arna menuju bis jemputan yang sedari tadi menunggunya. Sesekali wajah aza berpaling, menatap bunda, bibi dan rina. Tapi ia harus terus maju, ia harus pergi membawa cita-cita dan harapan-harapan orang yang menyayanginya.
Hanya lambaian tangan yang ia sanggup ia berikan…. Starter bis pun berbunyi, dan pedal gas siap dipijak menandakan bis siap berangkat. Aza membuka jendela tempat duduknya dan lagi-lagi melambaikan tangannya, butiran air mata semakin deras mengalir, bis pun perlahan bergerak, terus bergerak dan akhirnya hilang dalam jangkauan pandangan mata sang Bunda, bibi dan Rina.

Comments

Popular posts from this blog

Anakku sakit

seminggu yang lalu istriku sakit ditambah 1 minggu lebih putriku sakit, dan 3 hari harus opname dirumah sakit, keceriaanya hilang, tak ada lagi suara tawa candanya yang tiap pagi selalu berkicau, gerak-geraknya pun melemah... namun demikian ada begitu banyak hikmah yang dapat kupetik saat sakitnya, selain sakit memang merupakan Takdir dari Alloh Azza Wajalla… PERTAMA, mungkin dari apa-apa yang dimakannya ada terdapat hal-hal yang haram/syubhat sumbernya, sehingga ini memberikan hikmah bagaimana agar aku lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk keperluan nafkah anak dan istri. KEDUA, mungkin dalam pemilihan bahan makanan dan air kami selaku ayah dan ibu tidak teliti dengan membeli air sembarang saja tanpa memperhatikan higienitas, kesehatan sehingga Alloh menegur dengan member sakit di pencernaanya. dari kejadian ini kami akan berhati-hati dan selektif memilihkan bahan makanan dan minuman untuknya. KETIGA, mungkin selama ini kami terlena kehadirannya yang ter...

Belajar dari mereka yang tepat.... (part 1)

Membaca dan mengagumi beberapa karyanya, membaca TL di twitterya sampai beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminarnya... Ippho Santosa, saya banyak belajar dari dia tentang kesuksesan, tentang 7 keajaiban rejeki dan percepatan rejeki... dari seminarnya ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya.. ternyata untuk sukses berbakti kepada orang tua adalah hal yang sangat pokok dan tak bisa ditawar, kalo impian dan kehendak kita sudah selaras dengan orang tua tentu semua akan dimudahkan. berkaiatan dengan hal ini saya mempunyai cerita dan pengalaman pribadi tentang bagaimana keridhoan orang tua itu sangat manjur.. Cerita pertama adalah ketika saya selesai menamatkan pendidikan Mts/SMP saat itu Ibunda menyarankan saya untuk masuk sekolah SMK/SMEA, tapi saya bersikeras untuk bersekolah di Madrasah Aliyah, tak berapa lama sayapun mendaftarkan diri dan berhasil masuk tanpa tes, masa orientasi siswa pun saya jalani, dihari ke empat masa orientasi mengharuskan semua siswa baru untuk berma...

Rio..oh pakde

Gue kangen lu...pak de.. Pakde...gue yang satu ini..sungguh luar biasa, super sabar uy.... orangnya..komting terbaik gue..neh... pendiam..tapi cool men... ga pernah marah...tapi sekali marah...wow...luar biasa.... ini foto pakde lagi nyantai pulang kuliah sama pas liburan dulu...