Seminggu terakhir pekerjaan dan kesibukan nampak begitu banyak, mulai dari pekerjaan rutin sampai hal-hal kecil yang kesemuanya harus diselesaikan tepat waktu, seminggu terakhir pula dirumah ibu datang dua orang yang sudah seperti ayah dan ibu sendiri bagi kami, memang kami tak memiliki hubungan darah, namun hubungan ini sudah lebih dari sekedar keluarga dekat. Ya.. ternyata hubungan dekat tak hanya mesti satu darah, kepedulian tak mesti seketurunan.
Disela-sela perbincangan ringan yang kami lakukan ada hal yang menurutku menarik, ketika ibu dan ayah bercerita bagaimana kehidupan orang-orang dikampung halaman kami di desa Gunung Calang, Pamukan Selatan, sebuah desa kecil yang kaya sumberdaya mineral namun sayang tak sebanding dengan apa yang diperoleh masyarakatnya, terlebih pola fikir masyarakat yang sepertinya sulit untuk diluruskan.
Berapa banyak masyarakat disana yang bekerja siang malam, lupa waktu, lupa saat sholat, bahkan cenderung begitu keras tanpa perduli dengan hubungannya dengan Tuhan. Jika dilihat kehidupan mereka yang bekerja dengan istilah pergi pagi pulang pagi tak lebih baik dengan mereka yang bekerja sesuai alokasinya, alokasinya untuk hubungannya dengan manusia dan alokasi hubungannya dengan Tuhan. Bahkan mereka cenderung lebih gelisah, hasil yang mereka peroleh seolah tak berbekas, raib entah kemana, seolah kerja keras mereka tak berbalas dengan hasil yang mereka inginkan.
Berbeda halnya dengan mereka yang bekerja dengan alokasi waktu, memang hasilnya tak sebanyak jika dibanding dengan yang pergi pagi pulang pagi. Namun kehidupan mereka begitu tenang, rezeki mereka seolah mengalir dengan teratur, mereka selalu merasa cukup, dan yang terpenting seolah harta mereka bertambah dari waktu ke waktu.
Jadi gitu, jangan hanya Usaha tapi Usholli juga ucap ibu... tak akan jadi apa-apa kalo kita pontang panting usaha tapi melupakan siapa yang memberikan rezeki sebenarnya. Maksudnya selain kita harus bekerja keras, tetapi jangan lupa pada Tuhan, selalu ingat waktu sholat, jangan lupa pula zakat dari hasil usaha. Luar biasa menurutku ini, dan nasehat sederhana ini tak akan diperoleh di bangku kuliah manapun. Sederhana namun penuh makna. (terimakah mom atas inspirasinya)
Semoga Manfaat
*RaswanAbdullah
(tulisan 1 atas hukuman telat nulis)
Disela-sela perbincangan ringan yang kami lakukan ada hal yang menurutku menarik, ketika ibu dan ayah bercerita bagaimana kehidupan orang-orang dikampung halaman kami di desa Gunung Calang, Pamukan Selatan, sebuah desa kecil yang kaya sumberdaya mineral namun sayang tak sebanding dengan apa yang diperoleh masyarakatnya, terlebih pola fikir masyarakat yang sepertinya sulit untuk diluruskan.
Berapa banyak masyarakat disana yang bekerja siang malam, lupa waktu, lupa saat sholat, bahkan cenderung begitu keras tanpa perduli dengan hubungannya dengan Tuhan. Jika dilihat kehidupan mereka yang bekerja dengan istilah pergi pagi pulang pagi tak lebih baik dengan mereka yang bekerja sesuai alokasinya, alokasinya untuk hubungannya dengan manusia dan alokasi hubungannya dengan Tuhan. Bahkan mereka cenderung lebih gelisah, hasil yang mereka peroleh seolah tak berbekas, raib entah kemana, seolah kerja keras mereka tak berbalas dengan hasil yang mereka inginkan.
Berbeda halnya dengan mereka yang bekerja dengan alokasi waktu, memang hasilnya tak sebanyak jika dibanding dengan yang pergi pagi pulang pagi. Namun kehidupan mereka begitu tenang, rezeki mereka seolah mengalir dengan teratur, mereka selalu merasa cukup, dan yang terpenting seolah harta mereka bertambah dari waktu ke waktu.
Jadi gitu, jangan hanya Usaha tapi Usholli juga ucap ibu... tak akan jadi apa-apa kalo kita pontang panting usaha tapi melupakan siapa yang memberikan rezeki sebenarnya. Maksudnya selain kita harus bekerja keras, tetapi jangan lupa pada Tuhan, selalu ingat waktu sholat, jangan lupa pula zakat dari hasil usaha. Luar biasa menurutku ini, dan nasehat sederhana ini tak akan diperoleh di bangku kuliah manapun. Sederhana namun penuh makna. (terimakah mom atas inspirasinya)
Semoga Manfaat
*RaswanAbdullah
(tulisan 1 atas hukuman telat nulis)
Comments