“ga mungkinlah abang akan main-main diluar sana ka, dia kan
alim”
Itulah sepenggal kalimat dari perbincangan istriku dengan
beberapa rekan kerjanya, mendengar kalimat tersebut hatiku menggelitik
tersindir sangat, malu rasanya diri ini dengan penilaian orang-orang tentang
diri ini yang hanya sekilas tanpa tau bagaimana aku sebenarnya.
Melalui kalimat tersebut, rasa malu membuncah dalam diri dan
berkata dalam hati “apa iya? Mungkin ini peringatan dari Alloh agar aku
berubah”. Semenjak malam itu aku mengevaluasi diri, atas dasar apa mereka
mengucapkan itu?
“Oh Tuhan, betapa banyak kesengajaanku meninggalkan sholat,
padahal aku tau dosa meniggalkan sholat lebih besar daripada membunuh dan
berzina”
“Oh Tuhan, betapa sering aku berbuat dzalim pada istri dan
anak-anakku, padahal aku tau istri dan anak hadir untuk dilindungi dan dibina,
diberi kasih sayang dan cinta”
“Oh Tuhan, betapa teganya diri ini membiarkan orang tuaku,
padahal aku tau berbakti adalah kewajiban dan Ridhonya adalah RidhoMu”
“Oh Tuhan, betapa cueknya aku pada sesamaku, padahal aku tau
menjalin ukhuwah adalah kewajiban sebagai umat NabiMu”
“betapa sering hati ini berprasangka buruk, lidah ini
berkata kotor, mata ini tak terjaga, tangan dan kakipun tak sekali dua berbuat
keji”
“Oh Tuhan, pantaskah aku mendapatkan pujian seperti itu”
Aku sadar betapa kotornya diri ini, kini aku bertekad untuk
terus meningkatkan kebaikan-kebaikan dalam hidupku, menjaga sholatku,
menjalankan Sunnah Nabiku, lebih menjaga kata-kataku dan perbuatanku, aku akan
malu jika diriku sama seperti tahun-tahun lalu.
Mungkin inilah teguran dari Alloh, aku berterima kasih Alloh
masih sayang padaku, deret kalimat itu kini menyadarkanku…
mari koreksi diri

Comments
Jazakumulloh..