Aza (Part. 2)
Malam pertama ditempat baru
Tepat pukul 09.00 malam bis yang dinaiki aza dan kakanya mulai memasuki gemerlap kota besar, gedung-gedung tinggi dihiasi sinar lampu yang penuh warna-warni berkelip membuat suasana kota semakin indah, hilir mudik kendaraan nampak jelas, belum lagi suasana macet tak kalah terlihat. Dikejauhan menara tinggi menjulang dengan sinar yang bergonta-ganti, Monas yang menjadi lambing kota tua ini, monument bersejarah dalam perjuangan. Kota besar yang selama ini hanya bisa ia saksikan ditelevisi, kini dapat ia lihat dengan mata kepalanya secara nyata. 30 menit kemudian bis pun tiba diterminal kota Pulo Gadung Jakarta, nampak mata aza masih bengkak karna sepanjang jalan ia hanya bisa menangis sampai akhirnya tertidur sebelum dibangunkan oleh kakanya ketika memasuki bis sudah berada di tol dalam kota.
Aza dan Arna turun dan memabawa barang-barang bawaannya, tampak beberapa orang menawarkan jasa angkat barang, ada juga yang menawarkan jasa taksi….angkutan termahal untuk golongan yang ekonominya pas-pasan. Tiba seorang berbadan gede datang menghampiri aza dan kakanya.
“mau kemana mas…..? de..mau kemana de” dari logat berbicaranya nampak kalau orang yang satu ni berdarah batak, alias Horas Bah…
Arna tak menjawab, apalagi aza yang belum ngerti tentang kehidupan Jakarta dan sekitarnya hanya bisa mengikuti langkah kaki kakanya.
“heh…mas mau kemana, ditanya ga dijawab, cem mana ku nih…” rupanya lelaki itu mulai kesal dengan sikap Arna yang hanya diam tak menjawab sepatah katapun
“heh…mas…kau tuh tuli atau bisu hah…” lelaki itu kembali melontarkan kata-katanya.
Arna nampaknya mulai kesel dengan ucapan laki-laki dihadapanya itu. Seketika dia berucap:
“saya mau ke Tangerang, kenapa, anda mau menyediakan transport gratis buat kami?” lontar Arna dengan nada keras
“heh…kalau ngomong jangan sembarangan ya.., aku cabut lidah kau baru tau kau nanti”
“silahkan kalau berani” Arna tak kalah sengit membalas kata-kata laki-laki itu
“kurang ajar sekali rupanya kau ini, belum tau kau siapa aku?”
“emang kau siapa hah?” sahut Arna
Lelaki itu kemudian mengepalkan tangannya, sebuah hantaman dia lemparkan kearah Arna, dengan gesit Arna menangkap tangan lelaki itu, memegang erat, dan memutarnya kuat-kuat.
Malam pertama ditempat baru
Tepat pukul 09.00 malam bis yang dinaiki aza dan kakanya mulai memasuki gemerlap kota besar, gedung-gedung tinggi dihiasi sinar lampu yang penuh warna-warni berkelip membuat suasana kota semakin indah, hilir mudik kendaraan nampak jelas, belum lagi suasana macet tak kalah terlihat. Dikejauhan menara tinggi menjulang dengan sinar yang bergonta-ganti, Monas yang menjadi lambing kota tua ini, monument bersejarah dalam perjuangan. Kota besar yang selama ini hanya bisa ia saksikan ditelevisi, kini dapat ia lihat dengan mata kepalanya secara nyata. 30 menit kemudian bis pun tiba diterminal kota Pulo Gadung Jakarta, nampak mata aza masih bengkak karna sepanjang jalan ia hanya bisa menangis sampai akhirnya tertidur sebelum dibangunkan oleh kakanya ketika memasuki bis sudah berada di tol dalam kota.
Aza dan Arna turun dan memabawa barang-barang bawaannya, tampak beberapa orang menawarkan jasa angkat barang, ada juga yang menawarkan jasa taksi….angkutan termahal untuk golongan yang ekonominya pas-pasan. Tiba seorang berbadan gede datang menghampiri aza dan kakanya.
“mau kemana mas…..? de..mau kemana de” dari logat berbicaranya nampak kalau orang yang satu ni berdarah batak, alias Horas Bah…
Arna tak menjawab, apalagi aza yang belum ngerti tentang kehidupan Jakarta dan sekitarnya hanya bisa mengikuti langkah kaki kakanya.
“heh…mas mau kemana, ditanya ga dijawab, cem mana ku nih…” rupanya lelaki itu mulai kesal dengan sikap Arna yang hanya diam tak menjawab sepatah katapun
“heh…mas…kau tuh tuli atau bisu hah…” lelaki itu kembali melontarkan kata-katanya.
Arna nampaknya mulai kesel dengan ucapan laki-laki dihadapanya itu. Seketika dia berucap:
“saya mau ke Tangerang, kenapa, anda mau menyediakan transport gratis buat kami?” lontar Arna dengan nada keras
“heh…kalau ngomong jangan sembarangan ya.., aku cabut lidah kau baru tau kau nanti”
“silahkan kalau berani” Arna tak kalah sengit membalas kata-kata laki-laki itu
“kurang ajar sekali rupanya kau ini, belum tau kau siapa aku?”
“emang kau siapa hah?” sahut Arna
Lelaki itu kemudian mengepalkan tangannya, sebuah hantaman dia lemparkan kearah Arna, dengan gesit Arna menangkap tangan lelaki itu, memegang erat, dan memutarnya kuat-kuat.
Comments