seminggu lebih...aqu kesel karena wirereles dikampus tidak jalan, banyak hal yang sudah aqu tulis terpaksa akhirnya menumpuk dalam file-file notebook ini... ada banyak hal terjadi selama seminggu itu...dan hari ini aqu coba untuk mengingat semuanya...
sabtu 14 Juni 2008
aqu menghadiri pernikahan Mba Ida, hemm akhirnya mba Ida menemukan juga jodohnya... semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah...amin...
hari itu sosoku menembus rerumunan orang, dan akhirnya aku terduduk dalam sebuah bis yang mengantarkanku kesana...ketempat resepsi... banyak liku perjalanan, namun akhirnya tubuhkupun mampu tersandar dikursi-kursi yang ditata dan dihias begitu rapi... mba ida duduk tepat disamping suaminya.... dengan gaun putih sedada... hemmm.... aku ga bisa comment deh...
tak banyak yang kulakukan dipesta tersebut selain inilah kesempatan untuk bersilaturrahmi dengan keluarga, paman, bibi, tapi...sayang tak semuanya terkumpul... a ade, amin dan ai ga ada ditempat... semuanya masih ditempat kerjanya itulah keterangan yang aku dapat dari mamang dan bibi...tapi tidak untuk ai..dia kan belum kerja... apa mungkin ya... dia menghindar bertemu denganku...padahal aqu sangat berharap bisa bertemu dengannya..tapi berbeda dengan kenyataan yang kudapat.....dia baru saja meninggalkan pesta tersebut dengan beberapa temennya...
yah....sudahlah.... aku hanya bisa menghela napas menjumpai kenyataan yang ada....
gerimis nampaknya sudah mulai membasahi tanah yang kering seharian…
akupun meniatkan diri dan pamitan untuk segera kembali kerumah tercinta yang sudah tiga tahun menemaniku, menjadi saksi malam-malamku, saksi rintih tangisku, dan saksi atas setiap bahagia dan nestapa yang kualami.
Beberapa saat akupun sudah berada dibis jelek yang membawaku kesebuah terminal, dalam perjalanan sebuah kejadian tragis terjadi, entah apa yang berlaku tarian malam mengantarkannya pada kesunyian, desir angin pun kian membuat bulu kuduk merinding, sementara bis semakin sesak, manusia berjejal memenuhi gang bis, bagai barang kelontong yang siap untuk angkut kepasar tradisional, inilah cerminan layanan publik, entah apa yang dicari, sungguh kenyamanan bukan lagi prioritas bagi penumpang, ya…apakah ini akibat BBM naik, atau memang sudah menjadi tradisi dan mengakar kuat.
Bis pun terus melaju, menerobos malam, meliuk ditikungan dan BRAKKKKKKKKKK….. bis menabrak pengendara sepeda motor, seketika bis yang kunaiki oleng seperti tak terkendali, semua penumpak berteriak histeris, cemas dan gugupun menyusup kedadaku…dan konyolnya bis bukan berhenti, malah terus melaju kencang seolah tak mau tau apa yang terjadi. Sementara dibelakang sana aku tak tau apa yang terjadi, mungkin saja pengendara itu terseret karena benturannya begitu keras, atau mungkin saja dia mengalami cidera yang berat, atau mungkin saja……. Oh tidak aku tidak berharap seperti itu.
Tapi aku yakin sang supir sangat gugup, supir tak bertanggung jawab, dia tetap saja menginjak pedal gas melaju ketujuan akhir…tapi aku dapat dilihat dia diliputi rasa bersalah yang teramat sangat…. Bagaimana tidak…sekonyong-konyong sampai ditempat tujuan bis itu langsung masuk ketempat jelek, seperti terminal tak terawat, seperti tak biasanya kami diturunkan disana.
Dalam batinku berkata, ingin sekali aku menolong pengendara tersebut, tapi entahlah akupun tak dapat berpikir apa-apa…..apakah aku juga termasuk orang yang tak mau peduli…? Oh….bagaimanakah nasib pengendara tersebut….
Tak berapa lama dari terminal parung, aku sudah berada dikosan, sebelum pulang aku sempat mampir kesebuah minimarket, ya membeli beberapa perlengkapan MCK untuk persediaan sebulan…. Dan kini aku telah membasahi badanku, letih sekali badan ini, aku ingin istirahat, tapi pikiranku masih melayang pada kejadian dijalan tadi….sempat terpikir bagaimana seandainya juga bi situ tak terkendali….apa yang terjadi? Sudah dimana aku sekarang tanyaku….?
sabtu 14 Juni 2008
aqu menghadiri pernikahan Mba Ida, hemm akhirnya mba Ida menemukan juga jodohnya... semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah...amin...
hari itu sosoku menembus rerumunan orang, dan akhirnya aku terduduk dalam sebuah bis yang mengantarkanku kesana...ketempat resepsi... banyak liku perjalanan, namun akhirnya tubuhkupun mampu tersandar dikursi-kursi yang ditata dan dihias begitu rapi... mba ida duduk tepat disamping suaminya.... dengan gaun putih sedada... hemmm.... aku ga bisa comment deh...
tak banyak yang kulakukan dipesta tersebut selain inilah kesempatan untuk bersilaturrahmi dengan keluarga, paman, bibi, tapi...sayang tak semuanya terkumpul... a ade, amin dan ai ga ada ditempat... semuanya masih ditempat kerjanya itulah keterangan yang aku dapat dari mamang dan bibi...tapi tidak untuk ai..dia kan belum kerja... apa mungkin ya... dia menghindar bertemu denganku...padahal aqu sangat berharap bisa bertemu dengannya..tapi berbeda dengan kenyataan yang kudapat.....dia baru saja meninggalkan pesta tersebut dengan beberapa temennya...
yah....sudahlah.... aku hanya bisa menghela napas menjumpai kenyataan yang ada....
gerimis nampaknya sudah mulai membasahi tanah yang kering seharian…
akupun meniatkan diri dan pamitan untuk segera kembali kerumah tercinta yang sudah tiga tahun menemaniku, menjadi saksi malam-malamku, saksi rintih tangisku, dan saksi atas setiap bahagia dan nestapa yang kualami.
Beberapa saat akupun sudah berada dibis jelek yang membawaku kesebuah terminal, dalam perjalanan sebuah kejadian tragis terjadi, entah apa yang berlaku tarian malam mengantarkannya pada kesunyian, desir angin pun kian membuat bulu kuduk merinding, sementara bis semakin sesak, manusia berjejal memenuhi gang bis, bagai barang kelontong yang siap untuk angkut kepasar tradisional, inilah cerminan layanan publik, entah apa yang dicari, sungguh kenyamanan bukan lagi prioritas bagi penumpang, ya…apakah ini akibat BBM naik, atau memang sudah menjadi tradisi dan mengakar kuat.
Bis pun terus melaju, menerobos malam, meliuk ditikungan dan BRAKKKKKKKKKK….. bis menabrak pengendara sepeda motor, seketika bis yang kunaiki oleng seperti tak terkendali, semua penumpak berteriak histeris, cemas dan gugupun menyusup kedadaku…dan konyolnya bis bukan berhenti, malah terus melaju kencang seolah tak mau tau apa yang terjadi. Sementara dibelakang sana aku tak tau apa yang terjadi, mungkin saja pengendara itu terseret karena benturannya begitu keras, atau mungkin saja dia mengalami cidera yang berat, atau mungkin saja……. Oh tidak aku tidak berharap seperti itu.
Tapi aku yakin sang supir sangat gugup, supir tak bertanggung jawab, dia tetap saja menginjak pedal gas melaju ketujuan akhir…tapi aku dapat dilihat dia diliputi rasa bersalah yang teramat sangat…. Bagaimana tidak…sekonyong-konyong sampai ditempat tujuan bis itu langsung masuk ketempat jelek, seperti terminal tak terawat, seperti tak biasanya kami diturunkan disana.
Dalam batinku berkata, ingin sekali aku menolong pengendara tersebut, tapi entahlah akupun tak dapat berpikir apa-apa…..apakah aku juga termasuk orang yang tak mau peduli…? Oh….bagaimanakah nasib pengendara tersebut….
Tak berapa lama dari terminal parung, aku sudah berada dikosan, sebelum pulang aku sempat mampir kesebuah minimarket, ya membeli beberapa perlengkapan MCK untuk persediaan sebulan…. Dan kini aku telah membasahi badanku, letih sekali badan ini, aku ingin istirahat, tapi pikiranku masih melayang pada kejadian dijalan tadi….sempat terpikir bagaimana seandainya juga bi situ tak terkendali….apa yang terjadi? Sudah dimana aku sekarang tanyaku….?
Comments