matanya jauh menatap, menari diantara deretan rel-rel....
rel-rel yang menghubungkan jakarta bogor...
mengayuh langkah tergopoh....
menarik, dan mengais sampah...
kaki itu terus tergopoh, terseot-seot
sementara matanya...terus menari-nari
mencari titik-titik yang ada dalam pikirnya
aku tak tau apa yang ada dalam pikirnya
sinar matanya menyatakan sebuah harapan
harapan untuk hidup, harapan untuk bertahan
sesekali tenggorokannya menelan ludah
aqu tau haus menggerogotinya
haus menyayat-nyayat tenggorokannya
haus itu terus menjalar, menjalar menyelinap keseluruh nadinya
mungkin saat itu matanya sudah membayang
matanya sudah terasa berkunang-kunang
hausnya pun semakin merasuk
seolah monster yang siap mematikannya
siap melenyapkan nyawanya
haus, hanya karena hausnya
tubuhnya lunglai, tubuhnya beku, tubuhnya layu
kini karena haus itupun dia terdampar
diantara harapan yang menari dimatanya
ditumpukan sampah...
diantara tumpukan keserakahan manusia
diantara ketidak pedulian semua orang
rel-rel yang menghubungkan jakarta bogor...
mengayuh langkah tergopoh....
menarik, dan mengais sampah...
kaki itu terus tergopoh, terseot-seot
sementara matanya...terus menari-nari
mencari titik-titik yang ada dalam pikirnya
aku tak tau apa yang ada dalam pikirnya
sinar matanya menyatakan sebuah harapan
harapan untuk hidup, harapan untuk bertahan
sesekali tenggorokannya menelan ludah
aqu tau haus menggerogotinya
haus menyayat-nyayat tenggorokannya
haus itu terus menjalar, menjalar menyelinap keseluruh nadinya
mungkin saat itu matanya sudah membayang
matanya sudah terasa berkunang-kunang
hausnya pun semakin merasuk
seolah monster yang siap mematikannya
siap melenyapkan nyawanya
haus, hanya karena hausnya
tubuhnya lunglai, tubuhnya beku, tubuhnya layu
kini karena haus itupun dia terdampar
diantara harapan yang menari dimatanya
ditumpukan sampah...
diantara tumpukan keserakahan manusia
diantara ketidak pedulian semua orang
Comments