Sabtu, 21 Juni 2008
Kemeriahan PRJ menarik simpatiku dan 10 anak manusia lainnya, betapa tidak sejak pukul 10.00 pagi aku dan 10 anak manusia lainnya mulai melangkahkan kaki menuju keramaian ini, entah apa yang dicari? Adakah sesuatu yang berbeda? Apakah isi PRJ? Itulah beberapa pertanyaan yang melintas dalam benakku sepanjang perjalanan, disamping transportasi apa yang bisa dipakai untuk bisa menuju tempat tersebut.
Seperti biasa rute 106, 72, Bus Way, dan Bajaj menjadi pilihan kami hingga akhirnya aku harus merogoh uang sebesar 220 ribu untuk membeli tiket, dibalik loket kulihat sosok wanita yang cantik juga, dengan kaos kuning yang dikenakan dan topi sportnya. Wanita itu menghitung lembaran tiket yang aku beli, dengan kupon-kupon yang akan ditukarkan didalam nanti. Tak berapa lama layaknya pembagian jatah beras bulog, aku membagikan tiket masuk tersebut, dan hemmmm siapa tau ada rezeki…. Aku mengisi kupon undian, begitu juga yang dilakukan 10 anak manusia lainnya.
Tak begitu meriah, hanya orang berjualan, itulah kesan pertama dalam benakku… dan siang ini di Arena ini, rasanya ditempat itulah makan siang termahalku dalam beberapa terakhir…..but, inilah Jakarta kalo ga beli mau nyari dimana lagi? Rasa Laparlah yang akhirnya memaksaku untuk merogoh uang sebesar 20 ribu rupiah. “wah untuk makan dua hari nih…” gumamku
Setelah menelan semua isi menu, kini kakiku melangkah menuju area yang bertuliskan Hall B….tak pernah mengerti apa maknanya, mungkin nama pemblokan tempat atau sekedar nama saja. Dan benar saja..rupanya inilah tempat orang-orang berdagang seperti yang terpikir saat aku pertama kali menginjakkan kaki di arena ini.
Kakiku melangkah, matakupun berputar mencermati kiri kanan, sementara bibirku sedikit berucap sesuatu kepada anak manusia lainnya…. Tak ada sesuatu yang bisa menarik perhatianku disini, selain sebuah toko buku dan toko bantal, ya..buku memang selalu menarik perhatianku, disanalah gudang ilmu, disanalah otak-otak para pemikir cerdas, disanalah sinar kehidupan, meski aku tak terlalu tahan jika harus membaca lama, tapi aqu lebih senang mengeluarkan isi dompet untuk membeli buku, novel, majalah, Koran, dsb. Paling tidak toko buku selalu menjadi tujuan utama ketika aku jalan-jalan melepaskan penatku…aku memperoleh hiburan tersendiri ketika mataku ini menari dan menyorot deretan buku-buku yang tertata rapi di Gramedia, Gunung Agung, ataupun toko buku lainnya. Seolah sang malaikat membawakan pemandangan ini ke benakku.
Disaat sama, disaat aku memilih beberapa buah buku dengan harga yang fantastis sangat murah, beberapa langkah dari toko tersebut….aku perhatikan gumpalan orang, dengan hanya dua kegiatan saja disana, makan dan minum, didepan kios-kios yang bertuliskan nasi padang, soto ayam, mie goring, gado-gado, aneka jus, semuanya ada…. Oh Allah…ternyata itulah tempat yang aku cari dengan sepuluh anak manusia lainnya beberapa puluh menit yang lalu… ternyata begitu banyak sajian disini…. Perutku rasanya ingin diisi lagi dengan menu-menu yang berjajar rapi sepanjang plang food court tersebut.
Puas dengan toko buku dan sekelilingnya, akupun mengajak 10 anak manusia yang lain menuju satu Gedung yang tak jauh dari tempat tersbut, diluar kuperhatikan anak-anak kecil tertawa seperti tak ada beban, ceria, menaiki arena permainan yang ada, sungging senyumnya menandakan kebahagiaan, tawanya lepas tanpa beban, tanpa pikiran esok apa yang terjadi, oh…alangkah indahnya hidup tanpa anak-anak tersbut… tertawa, tersenyum, berteriak, tanpa beban yang melilitnya… gelak tawanya mengingatkan masa kecilku dulu, dalam dekapan sang bunda, dalam tangisan ketika aku merengek karena minta sepatu baru, mobil-mobilan, baju bahkan ketika aku minta dibelikan buku teks pelajaran, yang kata orang-orang kampong, buat apa beli buku. Tapi ibuku tak seperti itu, apapun yang aku pinta cepat atau lembat beliau pasti membelikannya, betapa kini terasa bagiku beban tersebut, tentu saat itu ibu tak bisa tidur memikirkan apa yang aku pinta, mencarikan sumber uang untuk membelikannya. Ya Allah alangkah berdosa diri ini, yang selalu membebani ibuku dengan berbagai tuntutan, semoga kelak saat aku sudah menyelesaikan kuliah, aku dapat memberikan apa yang kupunya untuknya, memberikan apa yang dia minta. Amin!
Kini sebuah denah lokasi aku pandangi, aku lihat tulisan-tulisan yang menempel disampingnya, rupanya gedung yang akan dimasuki ini adalah stand-stand daerah diseluruh Indonesia, dan setibanya didalam benar saja, mulai dari ujung barat dan ujung timur Indonesia, berbagai kerajinan dan makanan tradisional tersaji disini, hemmm sambil berputar-putar aku nikmati saja seni mencicipi kue-kue disetiap stand, meski tidak beli tapi perutku lumayan banyak terisi makanan tersebut. Langkahku terhenti ketika seseorang yang sok akrab menarikku, dan seketika menyapukan cream putih ketanganku, dan tak berhenti disitu saja, pipi kananku pun habis jadi sasaran, huh….memang terasa dingin, tapi aku merasa aneh dengan produk tersebut, meski berharga murah dan menurutku aku memang memerlukannya. Tapi aku tak tau asal-usul produk pembasmi jerawat tersebut, bahannya seperti apa? Ga jelas…
Lega merasa lepas dari cengkraman laki-laki penjual produk jerawat tersebut, aku mendudukkan diri disebuah ballroom, dengan background pemandangan kota Jakarta dengan gedung yang menjulang tinggi, tugu monas ditengah-tengahnya dan sebuah lukisan kereta api. Aku duduk sesaat, tapi ternyata tempat itupun menarik perhatian 10 anak manusia yang lain…dan foto-fotolah yang terjadi…akh tanpa perduli orang-orang yang lewat, jepretan kamera berganti mengabadikan hari itu. Setelah puas dengan kelakuan yang aneh tersebut…. Aku melangkahkan kaki keluar gedung, dipintu keluar mataku terpaku melihat sebuah tulisan “tempat tidur bung karno saat diasingkan” rupanya inilah miniature tempat tinggal bung Karno saat diasingkan dulu, dan tempat tidur itu khusus didatangkan dari tempatnya, aku lupa nama tempatnya, kalo tidak salah Bengkulu.
Sederet langkah menuju gedung berikutnya, ketika aku menceburkan diri kesebuah tantangan disebuah stand Bank ternama dinegeri ini, disinilah bagaimana aku harus menyanyi lagu masa Kanak-kanak, lagu burung Kaka Tua, dengan semua huruf vocal diganti dengan abjad “I” bagaimana susah payahnya aku coba menyanyikannya….:
Biring kiki tii, hinggip dijindili, nini sidih tii, gigi-Nya….. dep… seketika suara gemuruh penonton menyorakkan, aku salah menyanyikannya, tapi meski demikian sporterku paling banyak, 10 anak manusia yang lain bertepuk tangan meriah mendukungku, dan lumayan aku dapat cek 100ribu. Hemmm lumayan sebagai ganti rugi ongkos dan makan siang tadi….
Lepas menceburkan diri di Game tersebut, aku segera naik ke escalator menuju lantai 2 dan 3, tak banyak yang dilakukan hingga setelah menemani seorang anak manusia membeli kamera kini aku dan 10 anak manusia lain sudah mengantri didepan penukaran kupon, membeli sebuah mie instant, dan minum…. Seperti mau mudik saja…antrian begitu panjang… tapi syukurlah akhirnya dapet juga, meski aku harus menikmatinya layaknya seorang gelandangan yang berduduk berderet dilantai sepanjang gedung, tapi inilah kenangannya….hemmm… cuek saja, rasa lapar yang sudah melilit perut membuatku tak perduli dengan keadaan seperti itu… toh diluar sana, ada orang yang ga bisa makan, ada orang yang lebih susah daripada hal ini, ada orang yang mangis, menjerit menahan pahitnya hidup…
Gumpalan mie itupun melaju masuk ketenggorakanku, diikuti sebotol air turut merasup kedalamnya, emh….nikmat juga….
Dan dentuman keras itu memekakkan telingaku, rasanya mau pecah, dengan aransemen lagu yang tak pernah kumengerti, padahal yang kutunggu adalah DEWA 19, tapi tak jua kunjung terlihat, badanku terasa lelah, mataku pun sudah terasa pedih, tapi hatiku tetap bertahan aku ingin menyaksikan konser Dewa 19, tapi mau tak mau, sepuluh anak manusia yang lain mengajakku pulang dan memaksaku untuk berjejal di antrian Bus Way gratisan yang akan mengangkut orang-orang menuju monas, lelah rasanya berdesakan, kemacetanpun tak jua kunjung reda, seperti semut yang berjejal menuju ruang bawah tanah, mobil dan motor Nampak padat sekali…. Sementara Bus Way yang dinanti tak jua datang, seperti pungguk merindukan bulan pikirku, seoran ibu dengan menggendong anak rupanya sudah menyerah untuk berjejal disana, akupun sebenarnya sudah ingin mengakhiri himpitan orang-orang ini…. Tapi aku harus menghargai 10 anak manusia yang lainnya…dan yang ditunggupun akhirnya datang juga…kata-kata menyerah dari anak manusia temanku yang lain.
Aku berputar menyebarangi lautan mesin-mesin, berharap ada angkutan alternatif, dan itupun juga harus menunggu lama, ketika sebuah metro mini rombeng berangka 11 datang, dan mengangkut ku ke sebuah terminal bis di ujung kota…. Terminal senen… kekhawatiran menyusup kedadaku, sudah tak ada lagi bis penghubung kearah ciputat…. Sampai akhirnya supri angkot yang tau jalan itu menawari untuk carter dan menghentikan gasnya diterminal lebak bulus setelah sepanjang jalan berdebat dengan teman-temanya yang lain tentang rute perjalanan, dan akupun tak luput dipersalahkan oleh supir tsb…
Tapi akhirnya aku lega ketika sudah berada di 106, kuperhatikan wajah-wajah anak manusia yang lain sudah mulai lelah, dan sudah ada yang tertidur…. Kaki dan tubuhkupun lelah sekali… benar-benar melelahkan…. Lelah itupun kubawa hingga ke peraduan empukku..dan PRJ on the memories.
Kemeriahan PRJ menarik simpatiku dan 10 anak manusia lainnya, betapa tidak sejak pukul 10.00 pagi aku dan 10 anak manusia lainnya mulai melangkahkan kaki menuju keramaian ini, entah apa yang dicari? Adakah sesuatu yang berbeda? Apakah isi PRJ? Itulah beberapa pertanyaan yang melintas dalam benakku sepanjang perjalanan, disamping transportasi apa yang bisa dipakai untuk bisa menuju tempat tersebut.
Seperti biasa rute 106, 72, Bus Way, dan Bajaj menjadi pilihan kami hingga akhirnya aku harus merogoh uang sebesar 220 ribu untuk membeli tiket, dibalik loket kulihat sosok wanita yang cantik juga, dengan kaos kuning yang dikenakan dan topi sportnya. Wanita itu menghitung lembaran tiket yang aku beli, dengan kupon-kupon yang akan ditukarkan didalam nanti. Tak berapa lama layaknya pembagian jatah beras bulog, aku membagikan tiket masuk tersebut, dan hemmmm siapa tau ada rezeki…. Aku mengisi kupon undian, begitu juga yang dilakukan 10 anak manusia lainnya.
Tak begitu meriah, hanya orang berjualan, itulah kesan pertama dalam benakku… dan siang ini di Arena ini, rasanya ditempat itulah makan siang termahalku dalam beberapa terakhir…..but, inilah Jakarta kalo ga beli mau nyari dimana lagi? Rasa Laparlah yang akhirnya memaksaku untuk merogoh uang sebesar 20 ribu rupiah. “wah untuk makan dua hari nih…” gumamku
Setelah menelan semua isi menu, kini kakiku melangkah menuju area yang bertuliskan Hall B….tak pernah mengerti apa maknanya, mungkin nama pemblokan tempat atau sekedar nama saja. Dan benar saja..rupanya inilah tempat orang-orang berdagang seperti yang terpikir saat aku pertama kali menginjakkan kaki di arena ini.
Kakiku melangkah, matakupun berputar mencermati kiri kanan, sementara bibirku sedikit berucap sesuatu kepada anak manusia lainnya…. Tak ada sesuatu yang bisa menarik perhatianku disini, selain sebuah toko buku dan toko bantal, ya..buku memang selalu menarik perhatianku, disanalah gudang ilmu, disanalah otak-otak para pemikir cerdas, disanalah sinar kehidupan, meski aku tak terlalu tahan jika harus membaca lama, tapi aqu lebih senang mengeluarkan isi dompet untuk membeli buku, novel, majalah, Koran, dsb. Paling tidak toko buku selalu menjadi tujuan utama ketika aku jalan-jalan melepaskan penatku…aku memperoleh hiburan tersendiri ketika mataku ini menari dan menyorot deretan buku-buku yang tertata rapi di Gramedia, Gunung Agung, ataupun toko buku lainnya. Seolah sang malaikat membawakan pemandangan ini ke benakku.
Disaat sama, disaat aku memilih beberapa buah buku dengan harga yang fantastis sangat murah, beberapa langkah dari toko tersebut….aku perhatikan gumpalan orang, dengan hanya dua kegiatan saja disana, makan dan minum, didepan kios-kios yang bertuliskan nasi padang, soto ayam, mie goring, gado-gado, aneka jus, semuanya ada…. Oh Allah…ternyata itulah tempat yang aku cari dengan sepuluh anak manusia lainnya beberapa puluh menit yang lalu… ternyata begitu banyak sajian disini…. Perutku rasanya ingin diisi lagi dengan menu-menu yang berjajar rapi sepanjang plang food court tersebut.
Puas dengan toko buku dan sekelilingnya, akupun mengajak 10 anak manusia yang lain menuju satu Gedung yang tak jauh dari tempat tersbut, diluar kuperhatikan anak-anak kecil tertawa seperti tak ada beban, ceria, menaiki arena permainan yang ada, sungging senyumnya menandakan kebahagiaan, tawanya lepas tanpa beban, tanpa pikiran esok apa yang terjadi, oh…alangkah indahnya hidup tanpa anak-anak tersbut… tertawa, tersenyum, berteriak, tanpa beban yang melilitnya… gelak tawanya mengingatkan masa kecilku dulu, dalam dekapan sang bunda, dalam tangisan ketika aku merengek karena minta sepatu baru, mobil-mobilan, baju bahkan ketika aku minta dibelikan buku teks pelajaran, yang kata orang-orang kampong, buat apa beli buku. Tapi ibuku tak seperti itu, apapun yang aku pinta cepat atau lembat beliau pasti membelikannya, betapa kini terasa bagiku beban tersebut, tentu saat itu ibu tak bisa tidur memikirkan apa yang aku pinta, mencarikan sumber uang untuk membelikannya. Ya Allah alangkah berdosa diri ini, yang selalu membebani ibuku dengan berbagai tuntutan, semoga kelak saat aku sudah menyelesaikan kuliah, aku dapat memberikan apa yang kupunya untuknya, memberikan apa yang dia minta. Amin!
Kini sebuah denah lokasi aku pandangi, aku lihat tulisan-tulisan yang menempel disampingnya, rupanya gedung yang akan dimasuki ini adalah stand-stand daerah diseluruh Indonesia, dan setibanya didalam benar saja, mulai dari ujung barat dan ujung timur Indonesia, berbagai kerajinan dan makanan tradisional tersaji disini, hemmm sambil berputar-putar aku nikmati saja seni mencicipi kue-kue disetiap stand, meski tidak beli tapi perutku lumayan banyak terisi makanan tersebut. Langkahku terhenti ketika seseorang yang sok akrab menarikku, dan seketika menyapukan cream putih ketanganku, dan tak berhenti disitu saja, pipi kananku pun habis jadi sasaran, huh….memang terasa dingin, tapi aku merasa aneh dengan produk tersebut, meski berharga murah dan menurutku aku memang memerlukannya. Tapi aku tak tau asal-usul produk pembasmi jerawat tersebut, bahannya seperti apa? Ga jelas…
Lega merasa lepas dari cengkraman laki-laki penjual produk jerawat tersebut, aku mendudukkan diri disebuah ballroom, dengan background pemandangan kota Jakarta dengan gedung yang menjulang tinggi, tugu monas ditengah-tengahnya dan sebuah lukisan kereta api. Aku duduk sesaat, tapi ternyata tempat itupun menarik perhatian 10 anak manusia yang lain…dan foto-fotolah yang terjadi…akh tanpa perduli orang-orang yang lewat, jepretan kamera berganti mengabadikan hari itu. Setelah puas dengan kelakuan yang aneh tersebut…. Aku melangkahkan kaki keluar gedung, dipintu keluar mataku terpaku melihat sebuah tulisan “tempat tidur bung karno saat diasingkan” rupanya inilah miniature tempat tinggal bung Karno saat diasingkan dulu, dan tempat tidur itu khusus didatangkan dari tempatnya, aku lupa nama tempatnya, kalo tidak salah Bengkulu.
Sederet langkah menuju gedung berikutnya, ketika aku menceburkan diri kesebuah tantangan disebuah stand Bank ternama dinegeri ini, disinilah bagaimana aku harus menyanyi lagu masa Kanak-kanak, lagu burung Kaka Tua, dengan semua huruf vocal diganti dengan abjad “I” bagaimana susah payahnya aku coba menyanyikannya….:
Biring kiki tii, hinggip dijindili, nini sidih tii, gigi-Nya….. dep… seketika suara gemuruh penonton menyorakkan, aku salah menyanyikannya, tapi meski demikian sporterku paling banyak, 10 anak manusia yang lain bertepuk tangan meriah mendukungku, dan lumayan aku dapat cek 100ribu. Hemmm lumayan sebagai ganti rugi ongkos dan makan siang tadi….
Lepas menceburkan diri di Game tersebut, aku segera naik ke escalator menuju lantai 2 dan 3, tak banyak yang dilakukan hingga setelah menemani seorang anak manusia membeli kamera kini aku dan 10 anak manusia lain sudah mengantri didepan penukaran kupon, membeli sebuah mie instant, dan minum…. Seperti mau mudik saja…antrian begitu panjang… tapi syukurlah akhirnya dapet juga, meski aku harus menikmatinya layaknya seorang gelandangan yang berduduk berderet dilantai sepanjang gedung, tapi inilah kenangannya….hemmm… cuek saja, rasa lapar yang sudah melilit perut membuatku tak perduli dengan keadaan seperti itu… toh diluar sana, ada orang yang ga bisa makan, ada orang yang lebih susah daripada hal ini, ada orang yang mangis, menjerit menahan pahitnya hidup…
Gumpalan mie itupun melaju masuk ketenggorakanku, diikuti sebotol air turut merasup kedalamnya, emh….nikmat juga….
Dan dentuman keras itu memekakkan telingaku, rasanya mau pecah, dengan aransemen lagu yang tak pernah kumengerti, padahal yang kutunggu adalah DEWA 19, tapi tak jua kunjung terlihat, badanku terasa lelah, mataku pun sudah terasa pedih, tapi hatiku tetap bertahan aku ingin menyaksikan konser Dewa 19, tapi mau tak mau, sepuluh anak manusia yang lain mengajakku pulang dan memaksaku untuk berjejal di antrian Bus Way gratisan yang akan mengangkut orang-orang menuju monas, lelah rasanya berdesakan, kemacetanpun tak jua kunjung reda, seperti semut yang berjejal menuju ruang bawah tanah, mobil dan motor Nampak padat sekali…. Sementara Bus Way yang dinanti tak jua datang, seperti pungguk merindukan bulan pikirku, seoran ibu dengan menggendong anak rupanya sudah menyerah untuk berjejal disana, akupun sebenarnya sudah ingin mengakhiri himpitan orang-orang ini…. Tapi aku harus menghargai 10 anak manusia yang lainnya…dan yang ditunggupun akhirnya datang juga…kata-kata menyerah dari anak manusia temanku yang lain.
Aku berputar menyebarangi lautan mesin-mesin, berharap ada angkutan alternatif, dan itupun juga harus menunggu lama, ketika sebuah metro mini rombeng berangka 11 datang, dan mengangkut ku ke sebuah terminal bis di ujung kota…. Terminal senen… kekhawatiran menyusup kedadaku, sudah tak ada lagi bis penghubung kearah ciputat…. Sampai akhirnya supri angkot yang tau jalan itu menawari untuk carter dan menghentikan gasnya diterminal lebak bulus setelah sepanjang jalan berdebat dengan teman-temanya yang lain tentang rute perjalanan, dan akupun tak luput dipersalahkan oleh supir tsb…
Tapi akhirnya aku lega ketika sudah berada di 106, kuperhatikan wajah-wajah anak manusia yang lain sudah mulai lelah, dan sudah ada yang tertidur…. Kaki dan tubuhkupun lelah sekali… benar-benar melelahkan…. Lelah itupun kubawa hingga ke peraduan empukku..dan PRJ on the memories.
Comments