Skip to main content

Diantara Gundahku

28 Juni 2008

Dihening pagi ini aku mulai merangkai kata ini, didingin embun kumenarikan jari-jariku diatas keyboard laptop kecilku ini, menyusuri ingatan akan apa yang terjadi sejak terakhir aku mengisi blog kesayanganku. Pagi ini serasa ada yang bertengger dikepalaku, ada beban pikiran yang tak pernah hilang selama 2 hari ini, ada rasa berontak terhadap diri yang hina dan alpa ini. oh… entah apa sebenarnya yang aku fikirkan, beban ini selalu saja menggelayut di otakku, selalu merongrong malam-malamku, dan selalu saja membuat mata ini sulit untuk terpejam.

Mengapa semua ini terjadi? Apa sebenarnya yang ada dalam benak ini? aku sudah coba menepis semunya, aku coba pergi dengan beberapa teman, aku membeli tiket bioskop, aku menyaksikan film-film terbaru minggu ini, tapi tetap saja keresahan ini tak kunjung reda.

Semalam ketika ku dudukkan diri disebuah etalase toko yang sudah terkunci rapat, kududuk memandang jauh kedepan, kuperhatikan hiruk pikuk kehidupan yang begitu keras, semua saling ingin lebih dulu, semua ingin jadi yang pertama, semua ingin dihormati, tanpa sadar kehormatan itu tetap akan tampak walau tidak diperlihatkan, kehormatan itu misteri dan hanya orang-orang terhormatlah yang dapat menggapainya. Semantara disamping kananku seorang ibu muda dengan 3 anaknya, sangat asik berdialog dengan seorang laki-laki didepannya, beberapa kali mataku menatapi mereka, anak yang paling kecil Nampak asik bermain tanpa ada beban dipikirannya, dia mungkin tidak merasakan bahwa dibermain ditengah kota yang keras, tanpa khawatir terkena gatal-gatal atau penyakit lainnya anak it uterus tertawa dalam jangkauan sang bundanya, sementara satu anak yang lain tertidur pulas diatas teras berkeramik putih itu, tanpa ada rasa dingin, Nampak pulas sekali, sementara jika kuperhatikan yang paling tua sudah mulai merasakan bahwa hidupnya begitu sulit, dia ingin ini, dia ingin itu. Itu Nampak sekali ketika sebongkah buah durian yang disampaikan padanya, mereka mengucap beberapa kali, syukur mereka begitu dalam. Siapakah ibu muda dan tiga anak itu, dan mengapa mereka ada ditempat seperti itu, seharusnya malam itu dia berada dirumahnya menidurkan ketiga putrinya. Siapakah dia? Apa yang terjadi dengannya? Ya… Allah begitu keraskah kehidupan kota ini. siapakah yang bertanggung jawab atas hal yang kulihat ini…

Masih dalam rentetan kejadian semalam, ketika tubuhku terseret kesebuah angkot 03…. Kerasnya hidup dikota ini terlihat jelas didepanku, deretan angkot-angkot yang berebut penumpang memenuhi bahu jalan, kernet yang berteriak-teriak menunjukan arah angkot itu akan pergi…. Pedal gas terus diinjak, seperti melepaskan umpan untuk memancing para penumpang, kata-kata keras terdengar dikanan dan kiri telingaku, mencaci, tanpa fikir hal itu membuat orang tersinggung ataukah tidak. Padahal kata adalah cermin dari sikap dan perilaku seseorang, sumpah serapah yang terdengar, bahkan seorang anak kecil yang berada didepanku pun tak kalah ambil bagian. Kata-kata anak tersebut begitu tajam, tak seharusnya dia berada ditempat seperti ini, nasibnya mungkin sama dengan ribuan anak negeri yang lain, jam segini dia harus bekerja, menyambung tali kehidupan. Sementara ribuan anak yang lain mungkin sudah terlelap dalam mimpi yang indah, dalam balutan selimut yang hangat, diatas peraduan yang empuk, diruangan yang nyaman dan harum.

Aku coba mengingat diri ini, seperti banyak hal telah berubah dalam hidupku, aku jugan nampaknya lebih cepat marah, tidak bisa menahan emosi, kata-kataku kadang kasar, tak berfikir bagaimana yang mendengarnya, kenapakah semua ini terjadi, semalaman aku memikirkannya…. Sebenarnya aku butuh sekali orang-orang yang bisa kuajak berbagi, meski suasana hati ramai, tapi kenapa aku selalu merasa sepi, aku ingin berbagi beban ini, tapi seoalah sudah tak ada yang perduli, aku ingin meluapkan emosi ini membuangnya jauh pergi, tapi aku tak yakin ini bisa. Dikala beban ini terus mendera, aku seolah berubah menjadi sosok yang keras, egois. Aku tak melihat ada teman-temanku yang peduli dengan ini semua, padahal aku butuh meraka, aku butuh kata-kata mereka. Selama ini yang kudengar hanya kenapa? Koq bisa? Dan itupun terlontar apa adanya, seolah hanya ingin menampakkan bahwa meraka peduli dengan diriku ini.

Ingin aku berlari, berterak, menangis, dan mengadu, tapi pada siapa? Siapa yang peduli? Aku tak bisa jika harus seperti ini terus, aku ingin jadi orang baik, aku tak bisa jika harus berdiam, aku tak bisa untuk memulai kata memanggil seseorang dan berkata “tolong aku, aku punya masalah” aku tak mungkin mengemis kata seperti itu, tak mungkin…. Apalagi setelah kejadian dikelas itu, ketika amarahku sedemikian menjadinya, bantingan pintu yang keras, sejak itulah terasa suasana seolah berubah setahap-demi setahap, aku semakin merasa sendiri, aku sendiri, tiada yang perduli, tiada satupun berucap “kenapa? Ada apa”. Kini pantaskah jika aku berfikir aku hanya dilihat ketika aku dibutuhkan?, wajarkah aku berkata, aku hanya didengar ketika aku menguntungkan?.....

Pada siapa aku harus mengadu, ditambah satu beban lagi……sudah tiga hari aku tidak bertegur sapa dengan seorang teman, sudah tiga hari pula suasana dingin terjadi antara aku dengannya…. Hatiku berontak, tapi disudut yang lain aku sudah muak dengan semuanya, tapi disudut yang lain aku merasa sangat tidak nyaman, disudut yang lain aku cuek, disudut yang lain aku ingin kembali seperti semula. Disudut yang lain aku sudah bosan dengan keadaan yang terus berulang seperti ini. aku juga berfikir aku tak pantas dipersalahkan, dua hari yang lalu aku sudah berusaha memulai kata tapi tak ada tanggapan, ya sudahlah… aku muak dengan semuanya. Meski aku diburu rasa tidak nyaman dan hatiku selalu berontak, tak ada cara lain sepertinya selain aku menikmati suasana seperti ini, aku tak mau ambil pusing, meski terkadang terbesit kata untuk meminta maaf, tapi aku bukan penyebab semua ini, aku hanya korban ketika aku terlampau kesal dan kekesalanku memuncak. Semua ini hanya korban ketika bercanda tidak pada tempatnya, korban ketika tidak mengerti orang lain.

Sampai kapan semua ini terus berjalan? Kapan akan berakhir? Hanya itu kata Tanya yang terus aku besitkan….. aku sadar aku bukan orang baik, sombong, arogan, emotional, tapi aku sudah berusaha menjadi orang baik, sabar, tapi itu hanya………………………………………………………………….? Entahlah…………..aku ingin berucap apa? Mungkin karena usahaku itu orang tidak mengenalku seutuhnya, seenaknya berbuat sesuatu padaku, dan kini meraka harus sadar, bahwa segala sesuatu harus pada tempatnya. Dan inilah hal tersulit yang pernah kujumpai, dan disinilah letak seseorang dimata orang lain. Ya … disinilah dikala MAMPU MENEMPATKAN SESUATU SESUAI TEMPATNYA.

Comments

Popular posts from this blog

Anakku sakit

seminggu yang lalu istriku sakit ditambah 1 minggu lebih putriku sakit, dan 3 hari harus opname dirumah sakit, keceriaanya hilang, tak ada lagi suara tawa candanya yang tiap pagi selalu berkicau, gerak-geraknya pun melemah... namun demikian ada begitu banyak hikmah yang dapat kupetik saat sakitnya, selain sakit memang merupakan Takdir dari Alloh Azza Wajalla… PERTAMA, mungkin dari apa-apa yang dimakannya ada terdapat hal-hal yang haram/syubhat sumbernya, sehingga ini memberikan hikmah bagaimana agar aku lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk keperluan nafkah anak dan istri. KEDUA, mungkin dalam pemilihan bahan makanan dan air kami selaku ayah dan ibu tidak teliti dengan membeli air sembarang saja tanpa memperhatikan higienitas, kesehatan sehingga Alloh menegur dengan member sakit di pencernaanya. dari kejadian ini kami akan berhati-hati dan selektif memilihkan bahan makanan dan minuman untuknya. KETIGA, mungkin selama ini kami terlena kehadirannya yang ter...

Belajar dari mereka yang tepat.... (part 1)

Membaca dan mengagumi beberapa karyanya, membaca TL di twitterya sampai beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminarnya... Ippho Santosa, saya banyak belajar dari dia tentang kesuksesan, tentang 7 keajaiban rejeki dan percepatan rejeki... dari seminarnya ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya.. ternyata untuk sukses berbakti kepada orang tua adalah hal yang sangat pokok dan tak bisa ditawar, kalo impian dan kehendak kita sudah selaras dengan orang tua tentu semua akan dimudahkan. berkaiatan dengan hal ini saya mempunyai cerita dan pengalaman pribadi tentang bagaimana keridhoan orang tua itu sangat manjur.. Cerita pertama adalah ketika saya selesai menamatkan pendidikan Mts/SMP saat itu Ibunda menyarankan saya untuk masuk sekolah SMK/SMEA, tapi saya bersikeras untuk bersekolah di Madrasah Aliyah, tak berapa lama sayapun mendaftarkan diri dan berhasil masuk tanpa tes, masa orientasi siswa pun saya jalani, dihari ke empat masa orientasi mengharuskan semua siswa baru untuk berma...

Rio..oh pakde

Gue kangen lu...pak de.. Pakde...gue yang satu ini..sungguh luar biasa, super sabar uy.... orangnya..komting terbaik gue..neh... pendiam..tapi cool men... ga pernah marah...tapi sekali marah...wow...luar biasa.... ini foto pakde lagi nyantai pulang kuliah sama pas liburan dulu...