Selama dua hari berturut-turut kota ini selalu diguyur hujan, aroma hujan yang has dan menyegarkan dipagi hari membuat aku tergoda untuk sekedar melapangkan tangan dan menanti setiap rintik-rintiknya jatuh ke telapak tangan. Dingin hujan ini segar dan menyegarkan terlebih dipagi hari seperti hari ini. Namun demikian, hujan selalu menghadirkan beragam cerita bagi setiap orang. ada yang happy, ada yang sedih, ada yang malah menggerutu dan menyalahkan hujan, padahal hujan telah menjadi sumber kehidupan baru bagi seluruh makhluk dibumi ini.
Bagi sebagian orang kadang hujan menjadi alasan untuk datang terlambat ke sekolah, kuliah atau tempat kerja, atau dalam hal memenuhi janji. Ini mesti diluruskan. Hujan seharusnya tak menjadi penghambat untuk itu semua. Ah...maaf tadi hujan, hujan sih tadi makanya telat... dan sederet kata lain yang mejadikan hujan seolah menjadi moment yang tepat untuk dipersalahkan.
Padahal jika kita menikmati momen hujan ini dengan cara berbeda dengan cara mensyukurinya dengan cara menikmatinya maka yakin ada kebahagiaan tersendiri yang menjelma didalam dada. Saat hujan sesekali tetap saja berjalan terobos hujan tersebut, tengadahkan kepala ke langit, kemudian rasakan dan nikmati setiap tetes demi tetes hujan yang menyentuh tubuh. Tarik nafas dalam-dalam dan rasakan terus begitu indahnya momen tersebut. Begitu agungnya Allah Azza wajalla. Saat semua orang berusaha berteduh kita terus berjalan dan seraya berdo'a semoga Allah memberikan keberkahan dan keberlimpahan Rezeki (seperti tercurahnya hujan dari langit yang deras) atau sambil bergumam "Alhamdulillah akhirnya Allah kasih mobil ini, dan semoga menjadi jalan untuk lebih taat dalam hidup" bukankah doa diwaktu hujan adalah Mustajab. Ketika hal tersebut suatu hari menjadi nyata maka ini akan menjadi moment yang luar biasa, dan saat itu kita sudah duduk dibelakang setir bulat bersama-sama orang yang tercinta.
Hujan, Selalu damai berada diantaranya. Selalu sejuk dalam paduan rasa, selalu indah, selalu akan terlahir kehidupan baru karenanya. Hujan, teruslah menyirami setiap sendi-sendi kehidupan, setiap ruas-ruas harapan. Hujan Tanpamu apalah diri ini, apalah daya kami yang notabene sebagian besar tubuh kami hanya air, dan hujan engkaulah muara air tersebut. Hujan....Tetaplah tercurah, tetaplah mengisi, tetaplah memenuhi. Hujan.
Comments